بسم الله الرحمن الرحيم
T A W A D L U
( RENDAH HATI )
I. PENGERTIAN
Al ‘Azizi berkata : Tawadlu adalah merendahkan diri terhadap kebenaran
dan tidak menolak terhadap keputusan yang telah ditetapkan baginya.
Ada juga yang berpendapat : Menerima kebenaran dari manapun datangnya, baik
dari yang besar, kecil, yang mulia maupun kalangan bawah.[2]
Fudhail bin Iyadh pernah ditanya tentang makna tawadlu, maka ia menjawab : Tunduk
kepada kebenaran dan menerimanya dari mana saja ucapan itu.[3]
Hasan berkata : “Tawadlu adalah jika engkau keluar dari rumahmu dan
engkau tidak bertemu dengan seseorang kecuali engkau anggap ia lebih baik
darimu.” [5]
II. DALIL-DALIL TENTANG
TAWADLU
A.
Al Qur’an
وَعِبَادُ
الرَّحْمنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الأَرْضِ هَوْنًا
“Dan hamba-hamba Allah yang
berjalan di muka bumi dengan rendah hati.”
(Qs. Al-Furqan : 63)
Maksudnya
adalah : Berjalan
dengan tenang, berwibawa dan bersikap tawadlu (rendah hati), tidak jahat, tidak
congkak dan sombong.[6]
Ibnu
Abbas berkata : Yaitu yang
berjalan dengan taat, dengan ma’ruf dan tawadlu (rendah hati).
Al
Hasan berpendapat : Mereka
adalah orang-orang yang berilmu dan bersikap lemah lembut.
لاَتَمُدَّنَّ
عَيْنَيْكَ إِلَى مَامَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ وَلاَتَحْزَنْ
عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِيَن {88}
Janganlah
sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah
Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu),
dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu
terhadap orang-orang yang beriman. (QS. 15:88)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَن
يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ
وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ…
{54}
“Hai
orang-orang yang beriman barang siapa diantara kamu yang murtad dari agamanya,
maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan
mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lembah lembut terhadap orang mukmin, dan bersikap keras terhadap orang-orang
kafir.....” (Qs. Al-Maidah : 54)
Ibnu Katsir menyebutkan
: Ini adalah sifat orang-orang yang sempurna keimanannya. Yaitu hendaklah
mereka bersikap tawadlu kepada saudara dan walinya ...... [9]
As Syaukani menafsirkan :
Lafadz أذلة على المؤمنين, yaitu yang menampakkan belas
kasih, tunduk dan tawadlu kepada orang-orang yang beriman.[10]
تِلْكَ
الدَّارُ اْلأَخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لاَيُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي
اْلأَرْضِ وَلاَفَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ {83}
“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak
ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan yang
baik itu bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Al-Qoshos : 83)
Ali bin Abi Thalib r.a berkata :
Ayat ini turun terhadap orang-orang yang adil dan tawadlu, baik mereka itu dari
kalangan penguasa atau orang-orang yang punya kekuasaan dari kalangan manusia.[11]
Ibnu Katsir berkata :
Allah swt mengabarkan kepada kita bahwa negeri akhirat dan kenikmatan yang ada
di dalamnya itu diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, yang bersikap
tawadlu dan tidak menghendaki ketinggian, kesombongan dan kesewenang-wenangan
di muka bumi ini.[12]
B. As Sunnah
عَنْ
عِيَاضِ بن حمار رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى اله عليه وسلم :
إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى
أَحَدٍ وَ لاَ يَفْخَرُ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ . رواه مسلم و أبو داود و أبن ماجه
Dari
Iyadh bin Himar r.a berkata : Rosulullah
saw. bersabda : Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku supaya kalian berlaku tawadlu (rendah hati) hingga tidak
ada seseorang yang menganiaya orang lain dan tidak ada seseorang yang sombong
terhadap orang lain.[13]
عَنْ
أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قال : مَا
نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ و مَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا
وَ مَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ إلا رَفَعَهُ . رواه مسلم و الدارمى و أحمد
Dari Abu
Hurairah r.a bahwasanya Rosulullah saw bersada : Harta itu tidak akan berkurang
dengan disedekahkan dan Allah tidak menambah pada hamba-Nya yang mau memberi
maaf kecuali kemulyaan dan tidaklah seseorang itu berlaku tawadlu kecuali Allah akan
meninggikan derajatnya.[14]
عن
أبى سعيد الخدري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : من توضع لله
درجة رفعه الله درجة حتى يجعله فى عليين و من تكبر على الله درجة وضعه الله درجة
حتى يجعله فى أسفل السافلين . رواه أحمد و ابن ماجه
Dari Abu Said Al Khudriyi r.a dari
Rosulullah saw bersabda : “Barang siapa yang tawadlu’ kepada Allah satu
derajat, maka Allah akan meninggikan satu derajat sehingga Ia jadikan pada
tingkatan Iliyyin (golongan yang tinggi). Dan barang siapa yang takabur
(sombong) kepada Allah satu derajat, maka Allah akan merendahkannya satu
derajat sehingga ia berada pada derajat asfala safiliin (derajat yang paling
rendah).[15]
عن
عبد الله بن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ألا أخبركم بمن يحرم
على النار و بمن تحرم عليه النار ؟ على كل قريب هين سهل . رواه الترمذي
Dari
Ibnu Mas’ud berkata Rosulullah saw bersabda : “Maukah aku kabari tentang orang
yang haram baginya neraka dan neraka haram baginya? Yaitu setiap orang yang
dekat (dengan manusia), berlaku rendah dan mudah.[16]
عن سهل بن معاذ بن أنش بن الجهني عن
أبيه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من ترك اللباس تواضعا لله و هو يقدر
عليه دعاه الله يوم القيامة على رؤوس
الخلائق حتى يخيره من أي حلل الإيمان شاء
يلبسها . رواه الترمذي
Dari
Sahl bin Mu’adz bin Anas bin Al Juhniy dari bapaknya bahwa Rosulullah saw
besabda : Barang siapa meninggalkan baju (yang bagus, mahal dan mentereng)
karena tawadlu kepada Allah padahal sebenarnya ia mampu untuk melakukannya maka
Allah akan mendo’akannya pada hari kiamat di atas kepala seluruh makhluk,
sehingga ia memiliki kebebasan memilih baginya dari perhiasan-perhiasan
orang-orang beriman sesukanya.[17]
عن
ابن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لاَ يَدْخُلُ
الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ . رواه مسلم
Dari Ibnu Mas’ud berkata, bersabda Rosulullah saw :
“Tidak akan masuk jannah orang yang di
dalam hatinya kesombongan meskipun seberat dzarroh (biji sawi).”[18]
III. PERKATAAN SALAFUS SHALIH TENTANG TAWADLU
1. Abu
Bakar berkata :
“Kami mendapatkan kemulyaan pada taqwa, kekayaan pada keyakinan dan kehormatan
pada tawadlu.”[19]
2. Amirul
Mukminin Umar bin Khattab berkata : “Bila seorang hamba tawadlu
kepada Allah, tentu Allah akan meninggikan hikmah dirinya. Berdirilah tentu
Allah akan meninggikanmu. Namun bila dia takabur dan merasa tinggi
kedudukannya, tentu Allah akan menghukumnya dengan hukuman yang keras di bumi.
Hinakanlah, tentu Allah akan menghinakan kamu. Dia merasa dirinya besar padahal
dia hina di mata manusia, bahkan ia lebih rendah dari seekor babi di mata
mereka.” [20]
3. Umar
bin Abdul Aziz berkata : Sebaik-baik manusia adalah orang yang di sisi Allah
berlaku tawadlu.[21]
4. Urwah
bin Zubair r.a. berkata : “Aku pernah melihat Umar bin Khattab memanggul segeriba
air . Maka kukatakan kepadanya : ‘Wahai amirul mukminin, tidak sepantasnya
engkau melakukan hal itu Umar menjawab,
“Ketika ada beberapa utusan yang datang kepadaku dalam keadaan tunduk dan
patuh, maka ada sedikit kesombongan yang merusak dalam diriku. Namun aku dapat
mengenyahkannya.” [22]
5. Fudhail bin Iyadh pernah ditanya tentang makna
tawadlu, maka beliau menjawab:
تَخْضَعُ
لِلْحَقِّ وَ يَنْقَادُ لَهُ وَ يَقْبَلُهُ مِمَّنْ قَالَهُ
“Artinya
tunduk kepada kebenaran dan patuh kepadanya serta mau menerima kebenaran itu
dari siapa pun yang mengucapkannya.” [23]
6. Ibnu
‘Atho’ berkata : “ Tawadhu’ artinya mau menerima kebenaran dari siapapun.
Kemuliaan ada pada tawadhu’. Maka siapa yang mencarinya dalam kesombongan
berarti dia seperti mencari air dari kobaran api.[24]
7. Seorang salaf berkata :
التَّوَاضَعُ
أَنْ لاَ تَرَى لِنَفْسِكَ قِيْمَةً فَمَنْ يَرَى لِنَفْسِهِ قِيْمَةً فَلَيْسَ
لَهُ فِى التَّوَاضُعِ نَصِيْبٌ
“Tawadlu adalah jika engkau tidak melihat ada kelebihan
(keistimewaan). Maka barang siapa yang masih melihat pada dirinya ada keistimewaan
(nilai) maka belum ada pada dirinya sikap tawadlu.[25]
8. Ibrahim bin Syaiban berkata : As Syarof
(kemulyaan) ada dalam tawadlu, Al ‘izz (ketinggian) ada dalam taqwa dan AL
Hurriyah (kebebasan) ada dalam qona’ah.[26]
9. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :
“Takabur lebih jahat daripada syirik. Sebab orang yang takabur merasa dirinya
hebat untuk beribadah kepada Allah. Sedangkan orang musyrik masih mau beribadah
kepada Allah dan kepada selainnya.”[27]
10.
Syaikh Al Harowy (pengarang Manazilus Sairin) berkata : “Yang dimaksud tawadlu
ialah jika hamba tunduk kepada kekuasaan Allah.”
11.
Imam Syafi’i berkata : “Tawadlu merupakan akhlaq yang mulia, takabur merupakan
tabi’at yang keji (hina). Ketawadluan akan menghasilkan kecintaan dan qona’ah
(merasa cukup) akan menghasilkan kelapangan (kegembiraan)”.
12.
Imam Syafi’i juga berkata : “Manusia yang paling tinggi nilai (derajatnya)
adalah siapa yang tidak melihat pada dirinya ada nilai. Dan orang yang paling
mulia adalah yang tidak melihat pada dirinya ada kemuliaan.”[28]
13.Yusuf
bin Asbat ditanya tentang apa yang dimaksud tawadlu yang sebenarnya itu. Ia
berkata : “Engkau tidak menemui seseorang kecuali engkau melihatnya ia
mempunyai kelebihan atas dirimu.”[29]
14.Umar
bin Qois berkata : “Ada tiga perkara dari induk rendah hati : mendahului salam
kepada orang yang dijumpai senang duduk bersama orang biasa dari pada para
pembesar tidak suka riya’ dalam beribadah kepada Allah.
15. Bakar bin Abdullah berkata :
إِذَا رَأَيْتَ مَنْ هُوَ أَكْبَرُ
مِنْكَ فَقُلْ هَذَا سَبَقَنِي بِالإِيْمَانِ وَ الْعَمَلِ الصَّالِحِ وَ هُوَ
خَيْرٌ مِنِّي وَ إِذَا رَأَيْتَ مَنْ هُوَ أَصْغَرُ مِنْكَ فَقُلْ سَبَقْتُهُ
إِلَى الذُّنُوْبِ وَ الْمَعَاصِى فَهُوَ خَيْرٌ مِنِّيْ
“Jika kamu melihat orang yang lebih tua darimu, maka
katakan : “Orang itu lebih dulu beriman
dan beramal sholeh, maka ia lebih baik dariku.” Jika bertemu dengan orang yang
lebih muda darimu katakan : “Sesungguhnya aku lebih dulu dalam berbuat dosa dan
bermaksiat, maka ia lebih baik dariku. Jika engkau lihat temanmu memujimu dan
mengagungkanmu maka katakan, ini adalah karunia yang telah diambil dariku. Dan
jika engkau lihat diantara mereka mencelamu maka katakan: ini adalah akibat
dosa yang telah saya perbuat.” [30]
16.
Abu Zaid Al Bustomi pernah ditanya, kapan seorang itu disebut mutawadli (orang
yang tawadlu)? Maka jawabnya, “Jika ia tidak melihat pada dirinya punya
kedudukan dan tidak melihat bahwa ada orang lain yang lebih jelek dari
dirinya.”[31]
17.
Abdullah bin Mas’ud r.a ketika dimintai seseorang untuk mengajarkan kepadanya
beberapa kalimat yang ringkas tapi padat dan bermanfaat ia berkata : “Janganlah
engkau menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dan bergeraklah bersama Al
Qur’an kemanapun dia bergerak. Jika ada orang yang datang kepadamu dengan
membawa kebenaran maka terimalah darinya meskipun ia itu orang yang jauh darimu
dan kau benci. Dan jika ada orang yang datang kepadamu dengan membawa kebatilan
maka tolaklah meski ia itu orang yang engkau cintai dan dekat denganmu.”[32]
IV. POTRET KETAWADLUAN
ROSULULLAH SAW
1.
Suatu saat Aisyah r.a ditanya tentang apa yang
diperbuat Rosulullah saw di rumahnya. Maka katanya : Beliau melaksanakan
tugas-tugas keluarganya, jika datang waktu shalat beliau berwudlu dan keluar
untuk menunaikan shalat. ( HR. Bukhori
)
2.
Berkata Anas r.a. : “Tidak
ada orang yang kucintai melebihi kecintaanku terhadap Rosulullah saw .
Orang-orang ketika melihat Rosulullah saw datang mereka tidak berdiri untuk
menyambutnya karena mengetahui bahwa beliau tidak menyukainya.”( HR.Ahmad,
Tirmidzi dengan sanad shohih )
3.
Adalah beliau Rosulullah saw suka menziarahi
(berkunjung) kepada orang-orang Anshar, memberi salam kepada anak-anak kecil
mereka dan mengusap kepala-kepala mereka.( HR. An Nasa’i, shohih )
4.
Adalah beliau mendatangi
orang-orang yang lemah dari kalangan kaum muslimin dan menziarahinya dan
mengunjungi orang-orang yang sakit serta ikut mengiringkan jenazah mereka. (
HR. Abu Ya’la, Shohih )
5.
Adalah beliau banyak
berdzikir, sedikit bergurau, memanjangkan shalat, memendekkan khutbah, tidak
berlaku sombong, berjalan bersama janda, orang miskin dan hamba sahaya
sampai-sampai beliau mau melayani kemauan dan kebutuhannya.( HR. An Nasa’i,
shohih )
6.
Beliau duduk di atas tanah
dan makan di atas tanah. (HR. At Thobroni, shohih)
7.
Beliau tidak pernah menolak
wangi-wangian. (HR. Bukhori)
8.
Jika melewati anak-anak kecil
yang sedang bermain maka beliau
mengucapkan salam kepada mereka. (HR. Muslim)
9.
Dari Jabir r.a. berkata,
Rosulullah saw datang menemuiku bersama Abu Bakar, kedua-duanya berjalan kaki .
(HR. Bukhori)
10.
Anas bin Malik berkata : Ada
seorang bukan perempuan Madinah memegang tangan Rosulullah saw. kemudian
mengajaknya pergi kemana ia suka. (HR. Bukhori)
11.
Jika beliau makan, maka
beliau menjilati jari-jarinya yang tiga. (HR. Muslim)
12.
Tatkala beliau masuk kota
Makkah pada hari penaklukannya (Fathul Makkah), maka dagu beliau menyentuh
sandaran pelana bagian depan karena merunduk dan merendahkan diri kepada Dzat
yang telah menggunakan pakaian kemuliaan itu padanya yang justru orang lain
akan mendongakkan kepalanya jika mendapatkannya dan sangat diimpi-impikan para raja.[33]
13.
Beliau tidak pernah lama
memandang kepada wajah seseorang, menundukan pandangan, lebih banyak memandang
ke arah tanah dari pada ke langit.[34]
14.
Aisyah berkata : Beliau biasa
menambal terompahnya, menjahit bajunya, melaksanakan pekerjaan dengan tangannya
sendiri seperti yang dilakukan seseorang diantara kalian di dalam rumahnya.
Beliau sama dengan orang lain, mencuci pakaiannya, memerah susu dombanya dan
membereskan urusannya sendiri.[35]
15.
Sewaktu Rosulullah saw naik
haji, beliau duduk di atas pelana onta yang telah usang dan memakai selimut
yang harganya murah, tidak sampai 4 dirham. Waktu itu beliau berdo’a :
“Allohummaj’alhu Hajjan la riyaan fihi wala sum’ah” (Ya Allah jadikanlah haji ini haji yang tidak
disentuh oleh riya dan sum’ah padanya. (HR. Bukhori)
16.
Nabi saw. diajak makan roti
dari syair (gandum yang kasar) sedangkan lauknya minyak yang sudah berubah
(karena lamanya). Namun demikian, beliau tetap mengabulkan ajakan itu. Dan
sungguh beliau mempunyai baju besi yang tergadai kepada seorang Yahudi, bahkan
sampai hari wafatnyapun beliau tidak menebusnya kembali. (HR. Bukhori,
Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah)
17.
Nabi saw. bersabda :
“Janganlah kalian berlebihan memuji daku sebagaimana kaum Nasrani yang
berlebihan memuji anak Maryam (Isa). Aku hanyalah seorang hamba, oleh sebab itu
katakanlah (panggilah) aku Abdullah (hamba Allah) dan rosul-Nya (utusan-Nya).
(HR. Bukhori, Darimi dan Ahmad)
18.
Jikalau beliau duduk bersama
sahabat-sahabatnya beliau ikut bercampur di tengah-tengah mereka, seolah-olah
beliau salah seorang dari sahabat-sahabatnya itu saja, tidak bisa dibedakan.
Sehingga kalau ada orang asing yang belum mengenalnya tentu tidak mengetahui
yang mana rosul. Sehingga kadang-kadang orang yang baru datang terpaksa harus
menanyakan manakah Muhammad yang bergelar Rosulullah itu. [36]
19.
Ali bin Abi Thalib berkata :
“Rosulullah tidak berdiri dan tidak duduk melainkan berdzikir kepada Allah.
Bila datang ke suatu kaum maka beliau akan duduk pada deretan majlis yang
terakhir dan beliau memerintahkan hal itu. Beliau berikan kepada setiap teman
semajlisnya bagiannya masing-masing, sehingga orang yang semajlis dengan beliau
tidak ada yang menganggap temannya lebih mulia dari dirinya. Barang siapa yang
menghendaki duduk bersama beliau atau mengadukan kepada beliau suatu hajat maka
beliau akan melayaninya dengan sabar sampai orang itu sendiri yang beranjak.
(Karena telah merasa puas) dari padanya. Barang siapa yang meminta sesuatu
kepada beliau, beliau tidak akan menolaknya, diberinya apa yang diminta
(apabila tidak ada) diucapkannya kata-kata yang lembut. (yang membesarkan
hati). (HR. Thobroni, Tirmidzi dan Baihaqi)
V. POTRET KETAWADLUAN PARA SALAF
1.
Abu Bakar As Shiddiq r.a.
biasa membeli kain di pasar untuk diperdagangkan di sana. Umar bin Khattab juga
biasa membeli daging dan menentengnya untuk dibawa pulang ke rumah. Ali bin Abi
Thalib juga membeli korma serta membawanya sendiri dengan mantelnya. Lalu ada
seseorang yang berkata kepadanya, “Bagaimana jika kubawakan kepadamu barangmu?”
dia menjawab, “Tidak, pemilik barang lebih berhak untuk membawanya sendiri.”[37]
2.
Ibnu Sa’ad dan Ahmad serta
lainnya mentakhrij dari Abdullah Ar Ruumi, ia berkata : “Utsman bin Affan r.a
menyediakan sendiri air wudlu pada waktu malam. Ada orang berkata kepadanya,
“Andaikata engkau memerintahkan sebagian pembantu, tentu mereka akan
mencukupkannya bagimu.” Utsman berkata, “Tidak, waktu malam bagi mereka adalah
untuk beristirahat.” [38]
3.
Suatu hari Abu Hurairah
pulang dari pasar sambil membawa seikat kayu bakar, yang saat itu ia menjadi
gubernur Khalifah Marwan. Lalu ada seseorang yang berkata, “Beri jalan kepada
sang gubernur.” [39]
4.
Abdullah bin Abi Hudzail
berkata : “Saya melihat Amar bin Yasir membeli makanan ternak dengan satu
dirham, kemudian ia pikul sendiri di atas punggungnya padahal ia adalah amir
Kufah. [40]
5.
Dari Ibnu Sirin bahwa Umar menulis surat kepada rakyatnya
ketika Hudaifah berkuasa di Madain :
“Dengar dan taatlah serta berilah setiap apa yang diminta.” Maka Hudaifah
keluar untuk menemui Umar dengan mengendarai Himarnya yang di bawah pelananya
ada bekal yang telah ia siapkan. Ketika sampai ke tujuan iapun disambut oleh
kepala negeri sedang ia memegang secui roti dan kue daging.[41]
6.
Dari Abu Rofi’ berkata :
Marwan mengangkat Abu Hurairah sebagai gubernur di Madinah. Suatu hari ia
mengendarai himarnya sedang di atas kepalanya setumpuk kayu bakar. Ketika
berjalan ia bertemu dengan seseorang, maka berkatalah orang tersebut. “Beri
jalan, gubernur datang !” [42]
7.
Umar bin Abdul Aziz mendengar
khabar bahwa seorang anaknya membeli sebuah cincin seharga seribu dirham. Maka
Umar menulis surat kepadanya yang isinya : “Aku mendengar engkau telah membeli
cincin seharga seribu dirham. Jika suratku ini telah kau baca maka jualah cincin
itu dan belikan makanan untuk kau berikan kepada seribu orang. Lalu belilah
cincin lain dari besi seharga dua dirham. Tulislah dalam cincin itu kalimat
“Allah merahmati seseorang yang mengetahui nilai dirinya”.[43]
8.
Adalah Ahmad bin Hambal
keluar dari rumahnya ketempat penjual sayur, ia membeli ubi lobak, kayu dan
lainnya kemudian ia membawanya dengan tangannya sendiri. [44]
9.
Bahwa Ahnaf bin Qais bekuasa
di Khurasan. Pada suatu malam yang dingin ia mimpi basah (junub), meski
demikian ia tidak membangunkan pembantunya. Namun ia pecahkan es dengan
tangannya sendiri kemudian mandi dengannya[45].
10.
Ibnu Jabir berkata, Yazid bin
Abdil Malik datang ke majlis Makhul, maka kamipun bersiap-siap untuk
melapangkan majlis. Maka ia berkata : “Tidak usah kalian berbuat demikian, biar
dia bisa belajar bagaimana bertawadlu”[46]
11. Abdullah bin Zaid berkata, kami sedang
bermajlis dengan Makhul dan diantara kami ada Sa’id bin Abdul Aziz, maka kami
melihat ia menuangkan air (minum) di majlis tersebut.[47]
12.
Suatu kali Abu Dzar r.a. mengejek Bilal
r.a. karena kulitnya yang hitam,
akhirnya iapun menyesal kemudian ia rebahkan dirinya ke tanah dan bersumpah :
“Saya tidak akan mengangkat kepala saya sampai Bilal menginjak pipiku dengan
kakinya.” Demikianlah ia tidak mengangkat kepalanya hingga akhirnya Bilal
melaksanakan perintah Abu Dzar tersebut. [48]
13.
Diriwayatkan bahwa Umar bin
Abdul Aziz suatu malam kedatangan seorang tamu, ketika itu ia sedang menulis.
Tiba-tiba lampu yang dipakai untuk menerangi ruang tersebut hampir saja mati
(karena minyaknya habis). Maka berkatalah tamu tersebut, “Bolehkah saya
memperbaiki lampu tersebut?” Umar berkata, “Bukanlah sifat orang yang mulia
kalau ia minta bantuan pada tamunya.” Tamu tersebut berkata, “Kalau begitu biar
saya bangunkan pelayan tuan.” Umar berkata, “Jangan, ia baru saja
tidur!”kemudian ia mengambil botol minyak dan memenuhi lampu yang hampir mati
tersebut dengannya. Ketika tamu tersebut berkata keheranan : “Engkau kerjakan
pekerjaan itu sendirian wahai Amirul mukminin? Maka jawab Umar : “Ketika saya datang
(untuk mengerjakan pekerjaan tadi) saya adalah Umar, dan ketika saya kembali
saya pun tetap Umar, tidak berkurang dariku sedikitpun. Sebaik-baik manusia
adalah yang bersikap tawadlu.[49]
14.
Yunus bin Bukair dari Ibnu Ishaq berkata ;
"Saya telah melihat al-Qasim bin Muhammad sedang shalat. Ketika itu
datanglah kepada beliau seseorang dari kampung, lalu dia berkata ; Manakah yang
lebih pandai kamukah (seraya menunjuk ke al-Qasim) atau Salim, ? Maka jawab
beliau ; Maha suci Allah seluruhnya akan menjadikan kamu menjadi baik dengan
ilmu itu. Lalu dia berkata ; Mana diantara kamu yang lebih pinter ? . Jawab
beliau : Maha suci Allah. Lalu diulanginya jawaban tersebut dan kata beliau ?
Itu Salim telah datang. Pergilah kamu menemuinya dan bertanyalah kamu kepadanya
!. Maka dia pun kemudian berdiri menuju ketempat Salim. Berkata Ibnu Ishaq,
Beliau enggan menyebutkan : Saya lebih pandai, demi kesucian dirinya
(keikhlasan) Sedangkan enggan menyebutkan Salim lebih tahu dari aku karena ia
takut terjerembab kedalam kebohongan. Sebenarnya al-Qasim dialah yang lebih
pandai daripadanya.(Salim).[50]
VI. DERAJAT TAWADLU
Tersebut dalam kitab
‘Madarijus Salikin’ tentang derajat Tawadlu :
1.
Tawadlu
kepada agama
Maksudnya adalah
tunduk kepada apa yang dibawa Rosulullah saw . dan pasrah kepadanya. Hal ini
bisa dilakukan dengan tiga cara :
a. Tidak menentang sedikitpun darinya dengan
empat macam penentangan yang biasa dilakukan di dunia ini, yaitu dengan akal,
qiyas, perasaan dan siasat (politik).
Pertama : biasa dilakukan oleh orang-orang dari kalangan ahli
kalam yang menentang nash-nash wahyu dengan akal mereka yang rusak. Mereka
mengatakan : jika ada dalil naqli bertentangan dengan dalil aqli maka kami kedepankan yang aqli ( akal, pikiran).
Kedua
: di
lakukan oleh orang-orang sombong dari kalangan ahli fiqh yang mengatakan : jika
ada pertentangan antara qiyas, ro’yu dan nash maka kami kedepankan qiyas.
Ketiga
: di
lakukan oleh orang-orang sombong dari kalangan orang-orang sufi dan zuhud.
Mereka katakan : jika ada pertentangan antara perasaan dan perintah maka kami kedepankan perasaan.
Keempat
: di lakukan oleh orang-orang
sombong dari kalangan pemimpin dan pejabat yang mengatakan : jika ada
pertentangan antara syare’ah dan siyasah (politik) maka kami kedepankan
politik.
4 golongan ini adalah termasuk kategori
orang-orang yang sombong. Sedang tawadhu’ adalah jika kita terbebas darinya.
b. Tidak menuduh satu dalilpun dari dalil-dalil
agama dengan menganggapnya sebagai dalil yang tidak tepat, tidak relevan,
kurang atau terbatas, atau dalil lain lebih baik darinya.
c. Tidak ada pikiran sedikitpun untuk menyangkal
nash, baik di dalam batinnya, dengan perkataannya maupun perbuatannya.
2.
Tawadlu
kepada orang muslim
Maksudnya
meridloi orang muslim yang lain sebagai saudaranya sesama hamba Allah,
sebagaimana Allah telah ridla kepadanya. Tidak menolak kebenaran sekalipun
datang dari musuh dan menerima maaf dari orang yang meminta maaf kepadanya.
3.
Tawadlu
kepada Allah
Maksudnya tidak menganggap
pada dirinya punya hak atas Allah disebabkan amalan yang telah ia kerjakan.
Karena apa yang ia kerjakan adalah semata-mata perhambaannya kepada Allah,
kefakiran di hadapan-Nya dan ketundukannya pada-Nya. Maka kalau masih ada
perasaan bahwa dirinya masih punya hak atas Allah maka dikhawatirkan rusak dan cacatlah
ibadahnya dan kemungkinan ia akan mendapatkan murka dari Allah. Karena pada
hekekatnya, jika Allah memberi nikmat pada hambanya, itu semua adalah karunia
Allah semata, bukan semata-mata karena perbuatan yang ia lakukan.[51]
VII. HAKEKAT TAWADLU’ DAN BAHAYANYA TAKABUR
Ruh
(Inti) tawadlu’ adalah tawadlu’nya seorang hamba terhadap suatu kebenaran.
Yaitu hendaknya seorang hamba didalam menyambut suatu kebenaran yang datang
kepadanya itu dengan ketundukan, kepatuhan dan
kerendahan hati. Dimana ia posisikan kebenaran tersebut terhadap
diruinya sebegaimana berkuasanyaseorang raja terhadap kerajaan dan para
rakyatnya. Dengan cara inilah sifat tawadlu’ tersebut dapat tercapai.
Sehingga tepatlah sabda Rasulullah SAW yang menafsirkan alkibr
(sombong) yang merupakan lawan tawadlu’ dengan ucapan
الْكِبْرُ
بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ (رواه مسلم أبوداود والترمذي)
Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia (HR
Muslim. Abu Dawud, dan Tirmidli)
Maksud بطر
الحق adalah menolak kebenaran dan mengingkarinya, serta
mempertahankan (pendapatnya) dengan hatinya sebagaimana seseoran yang
mempertahankan dirinya dari serangan musuhnya.
Maksud
غمط الناس adalah meremehkan dan menganggap rendah mereka. Jika seseoorang
telah meremehkan dan memandang rendah orang lain maka ia akan menghilangkan
hak-hak mereka serta mengingkari dan menganggap mereka kecil dan hina.
Jika
ada seseorang berada diatas suatu kebenaran, maka jiwa yang sombong- apalagi
yang rusak- tidak akan mau mengakui kebenaran yang ada pada diri orang
tersebut, kalau toh mau menerima maka ia menerimanya dengan sikap angkuh dan
sombong.
Dari sini
jelaslah bahwa hakekat dari sifat tawadlu’ adalah tunduknya seorang hamba
terhadap suatu kebenaran dengan sikap pasrah dan patuh tanpa membantah dengan
fikiran dan pendapat darinya.[52]
Sedang
takabur adalah kebaikan sikap tawadlu’. Jika ada orang yang menghinakan
saudaranya sesama muslim, melihatnya dengan mata ejekan, menganggap bahwa
dirinya adalah lebih baik dari yang lain, suka menolak kebenaran sedangkan ia
tahu bahwa itulah yang sesungguhnya benar, maka jelaslah bahwa orang tersebut
masih dihinggapi penyaki t kesomboongan dan mengabaikan hak-hak Allah Ta’ala
serta tidak mentaati apa yang diperintahkan oleh Nya.
Bahaya
sifat takkabbur itu amat besar sekali dan berakibat luar biasa. Bagaimana tidak
besar sedangkan Rasulullah SAW telah bersabda:
لاَ
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ (رواه
مسلم )
Tidak
akan masuk jannah seorang yang ada didalam hatinya seberat atom dari sifat kibr (HR. Muslim)
Kenapa
sifat takabur ini menjadi penghalang antara seseorang dengan jannah ? Sebabnya
tiada lain, karena takabur itu pulalah yang merupakan batas pemisah antara
seseorang dengan akhlaq dan budi pekerti kaum mukminin seluruhnya.
Akhlaq
serta budi pekerti yang baik adalah merupakan pintu-pintu menuju jannah,
sedangkan takabur itu sendiri yang menyebabkan tertutupnya pintu-pintu
tersebut. Takabur adalah merasa diri lebih tinggi dari yang lain. Selain itu
juga di sebabkan karena seseorang yang takabur itu pasti tidak mempunyai rasa
untuk mencintai sesama saudaranya yang muslim sebagaimana cintanya kepada diri
sendiri. Orang yang takabur tidak akan bisa merendahkan diri sebagaimana
wajarnya yang diperintahkan oleh agama, sedangkan tawadlu adalah pokok dari
segala akhlaq dari orang-orang yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala. Orang yang
mempunyai sifat takabur juga tidak dapat meninggalkan sifat dendam dan tidak
dapat juga untuk dipercaya, baik perbuatan atau ucapannya. Ia tidak juga dapat
memberi nasehat yang baik dan berbuat jujur. Bahkan tidak dapat pula diberi
nasehat atau diberlakukan secara baik dan jujur pula. Ia sukar meninggalkan
kemarahan, sukar menahan amarahnya, sukar pula melenyapkan kedengkian dalam
hatinya, juga tidak dapat menghindarkan diri dari kegemaran mengejek orang lain
atau kesukaan mengumpat.
Sehingga
tidak ada satupun akhlaq madzmumah (budi pekerti yang buruk) yang tidak
dimiliki oleh orang yang sombong itu. Ia terpaksa menggunakan semua yang buruk
itu demi untuk menjaga kemulyaannya. [53]
VIII. BEBERAPA LATIHAN UNTUK MENUMBUHKAN SIKAP TAWADLU
1.
Hendaklah
mengadakan diskusi dan musyawarah dengan kawan-kawannya mengenai suatu masalah
atau persoalan. Jika sekiranya dari salah seorang kawannya itu terdapat suatu pendapat yang benar
tetapi oleh karena sesuatu tiba-tiba hatinya berat untuk menyetujui atau
mengikutinya dan tidak pula mau mengucapkan terima kasih pada peringatannya,
maka itulah suatu tanda bahwa dalam jiwanya masih ada perasaan takabur atau
sombong. Maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan berusaha untuk segera
mengobati penyakit tersebut dan menumbuhkan pada dirinya rasa tawadlu.
2.
Berkumpul
bersama kawan-kawannya dan siapapun juga dalam suatu pertemuan-pertemuan atau
acara-acara tertentu, lebih mengutamakan orang lain dari pada dirinya, suka
berjalan di belakang mereka, dan mau duduk di tempat yang tingkatannya lebih
rendah dari sahabat-sahabatnya itu. Jikalau masih berat maka teranglah bahwa
pada dirinya masih ada rasa takabur.
3.
Menghadiri
undangan orang–orang miskin yang
mengundangnya, mau berjalan di pasar untuk mengantarkan kawan yang memerlukan
sesuatu atau memenuhi keperluan-keperluan sahabatnya. Jikalau hal itu belum ia
lakukan berarti masih ada rasa sombong dalam hatinya.
4.
Tidak
malu-malu untuk membawa keperluannya sendiri, keperluan keluarganya atau
kawan-kawannya dari pasar, toko, ke rumahnya. Jikalau dia masih enggan
melakukannya, teranglah bahwa pada dirinya masih terpendam sikap takabur.
Ali r.a
berkata : “Seseorang yang sempurna itu tidak akan berkurang kesempurnaannya
dengan sebab membawa perbelanjaan yang diperuntukkan keluarganya di rumah.”[54]
Selanjutnya barang siapa yang hendak mempunyai sikap
tawadlu maka hendaklah meniru dan mengikuti jejak langkah Rosulullah saw.
Sesungguhnya yang tidak mau melakukan yang demikian itu maka alangkah bodohnya
ia. Bukankah Rosulullah saw itu sebaik-baik contoh bagi umatnya yang mempunyai
derajat dan kedudukan yang amat tinggi di sisi Roobnya. Maka kenapa kita enggan
mencontohnya? Bukankah tidak ada kemulyaan melainkan dengan jalan mengikuti
tingkah laku beliau saw. ?
Wallohu a’lam bis showab.
[1] Al Qomus Al Muhith, III/125
[2]
Aunul Ma’bud, XIII/238
[3]
Tahdzib Madarijus Salikin, II/280
[4]
Tahdzib Madarijus Salikin, II/281
[5]
Dalilul Falihin, 53
[6]
Tayisirul ‘Aliyil Qodir, III/319
[7]
Fathul Qodir , III/176
[8]
Ad Dur Mantsur, V/97
[9]
Taisirul Aliyul Qodir, II/61
[10]
Fathul Qodir, II/64
[11]
Ad Dur Al-Manstur, VI/444
[12]
Taisirul ‘Aliyil Qodir, III/406
[13]
HR. Muslim no. 46; Abu Dawud, Adab no. 40; Ibnu Majah, Zuhud no. 16, 23
[14] HR. Muslim, Kitabul Bir : 69; At
Tirmidzi, Kitabul Bir: 82; Ad Darimi, Kitabuz Zakat : 34; Muwatha’, Shadaqoh :
12; Ahmad, II/235, 386, 438
[15]
HR. Ahmad, III/76; Ibnu Majah, Zuhud no. 16
[16]
HR. At Tirmidzi, 2488
[17]
HR. At Tirmidzi, 2481
[18]
HR. Muslim
[19]
Buyut la Tadkhuluha Syayathin ‘edisi terjemahan’, 140
[20]
Buyut la Tadkhuluha Syayathin ‘edisi terjemahan’, 140
[21]
Minhajul Muslim, 161
[22]
Tahdzib Madarijus Salikin, II/681
[23]
Tahdzib Madarijus Salikin, II/680
[24]
Tahdzib Madarijus Salikin, II/681
[25]
Tahdzib Madarijus Salikin, II/680
[26]
Tahdzib Madarijus Salikin, II/681
[27]
Madarijus Salikin (terjemahan), 266
[28]
Tadzib Siyaru A’lam An-Nubala’, IV/743
[29]
Tahdzib Siyaru A’lami An-Nubala’, IV/702
[30]
Sifatus Shafwah, III/248; Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf, 18
[31]
Dalilul Falihin, V/50
[32]
Sifatus Shafwah, I/419
[33]
Fawaidul Fawaid, Ibnu Qoyyim
[34]
Rohiqul Makhtum, 482
[35]
Misykatul Mashabih, II/520
[36]
Mau’idlotul Mukminin, 117
[37]
Mukhtashor Minhajul Qoshidin, 218
[38]
Al Kanzu,V/48
[39]
Mukhtashor Minhajul Qoshidin, 218
[40]
Tahdzib Siyaru A’lami An Nubala’,
IV/473
[41]
Tahdzib Siyaru A’lami An Nubala’,
II/163
[42]
Tahdzib Siyar A’lami An Nubala’, VI/201
[43]
Madarijus Salikin ‘terjemahan’, 265
[44]
Tahdzib Siyar A’lami An Nubala’,
IV/815
[45]
Tahdzib Siyar A’lami An Nubala’,
III/329
[46]
Tahdzib Siyar A’lami An Nubala’ : I/481
[47]
Tahdzib Siyar A’lami An Nubala’, II/611
[48]
Tahdzib Madarijus Salikin, II/681
[49]
Minhajul Muslim, 181
[50]
Sifatus Shofwah, V/56
[51]
Lihat Tahdzib Madarijus Salikin, 683-688
[52] Tahdzib Madarijus Salikin, II/682
[53]
Tahdzib Mau’idlotul Mukmini, 306 - 307
[54]
Tahdzib Mau’idlotul Mukminin, 322-323 dan hal, 313
Tidak ada komentar:
Posting Komentar